MUJAHADATUN NAFS/KONTROL DIRI (MENITI HIDUP DENGAN KEMULIAAN) PART I, MATERI PABP KELAS X

 MUJAHADATUN NAFS

MENITI HIDUP DENGAN KEMULIAAN

PART I

PABP KELAS X




MENITI HIDUP DENGAN KEMULIAAN

Para pelajar sekalian, tema bahasan kita kali ini adalah 

MENITI HIDUP DENGAN KEMULIAAN

Dan berbicara mengenai Hidup dengan kemuliaan, saya teringat sebuah hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ad-Dzaruquthni yang menyebutkan bahwa islam itu tinggi dan tidak ada yang mampu menandinginya,

Dan Tentu saja, Ini juga bermakna bahwa Islam itu agama yang mulia dan tidak ada agama selain Islam yang bisa menandingi kemuliaan Islam.

Jadi seharusnya kita sebagai Muslim haruslah bangga dan ber bahagia, karena kita merupakan manusia yang di muliakan oleh Allah, karena telah memilih dan memutuskan untuk menerima Islam sebagai agama kita.

Namun sangat disayangkan, pada kenyataannya, tidak semua muslim mengamalkan ajaran Islam sepenuhnya, padahal Allah SWT, telah memerintahkan untuk menerima Islam dengan menjalankan ajaran Islam sepenuhnya. Sebagaimana firman Allah

 

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam keseluruhan...," Q.S. Al-Baqarah: 208. Dan Dalam tafsir Ibnu Katsir ayat ini dimaknai sebagai perintah dari Allah kepada hamba-Nya yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya agar berpegang kepada tali Islam dan semua syariatnya yang di aplikasikan dengan mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya dengan segala kemampuan yang dimiliki

Jadi Ketika kita mengupayakan diri dengan segala kemampuan yang ada untuk mengamalkan syariat Islam seluruhnya, maka saat itulah kita hidup dalam kemuliaan,

namun, apabila kita tidak menjalankan syariat Islam, dan malah melakukan hal-hal yang dilarang dalam Islam, maka saat itulah kita akan hidup dalam kehinaan.

Pada pembahasan kali ini, kita akan mengkaji bagaimana cara kita sebagai seorang muslim agar bisa tetap hidup dalam kemuliaan dan tidak terjerumus kepada kehinaan yang akan merugikan kita baik didunia maupun di akhirat.

Tedapat 3 amalan yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim dalam upaya mempertahankan kemuliaan dirinya, yaitu: sikap Mujahadatun nafs (Kontrol diri), Husnudzan (berbaik sangka), dan Ukhwah (Persatuan atau persaudaraan).

Kita awali dengan mengkaji pengertian Mujahadatun Nafs, bagaimana cara kerja nafsu, bagaimana setan bermain dengan nafsu kita dan bagaimana tips mudah dalam menjalankan Mujahadatun Nafs

Mujahadatun Nafs, terdiri dari dua kata, yaitu Mujahadah yang berarti bersungguh-sungguh dan An-Nafs yang berarti nafsu atau kecenderungan dalam berbuat keburukan.

Jadi Mujahadatun Nafs adalah kesungguhan hati dalam mengendalikan nafsu agar terhindar dari perilaku yang senantiasa mendorong manusia untuk berbuat keburukan.

Penggunaan kata Mujahadah atau keseungguhan hati, ini menggambarkan bahwa betapa sulitnya untuk mengendalikan nafsu, sehingga dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dalam melakukannya.

Ketika Allah menciptakan manusia, pada saat itu pun Allah melebihkan manusia dengan kemuliaan nya dibandingkan makhluk lainnya, bahkan pada saat itu Malaikat pun diperintahkan untuk bersujud sebagai sujud penghormatan atas manusia. Sebagaimana firman Allah dalam qs Al-Baqarah ayat 34


Kenapa manusia bisa lebih mulia dari Malaikat? Padahal kita ketahui bersama bahwa Malaikat adalah makhluk Allah yang senantiasa taat dengan bertasbih dan memuji Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqoroh ayat 30 dan At-Tahrim ayat 6.

 Allah melebihkan kemuliaan manusia karena dalam jiwa manusia, Allah menyimpan satu potensi yang tidak dimiliki Malaikat,

sebagaimana firman Allah dalam QS. Asy-Syam ayat 7-8

Allah menyempurnakan jiwa manusia dengan di ilhamkannya Fujur dan Taqwa

Sedangkan Malaikat hanya memiliki potensi taqwa saja, yaitu dorongan untuk berbuat ketaatan yang berdampak kepada tersebarnya kebaikan.

Sedangkan manusia disempurnakan jiwa nya oleh Allah tidak hanya diberikan potensi taqwa, melainkan diberikan juga potensi Fujur yang merupakan dorongan yang menyebar ke seluruh anggota tubuh manusia untuk berbuat keburukan yang sumbernya dari nafsu yang terletak dalam hati.

Ketika hati terdorong oleh nafsu untuk berbuat keburukan, maka dorongan ini disebarkan kepada anggota tubuh lainnya seperti tangan, kaki, mata, lisan dll. Dan ketika anggota tubuh tersebut terdorong oleh nafsu untuk melakukan keburukan, seperti tangan ingin memukul, lisan ingin mencerca, mata ingin memandang hal yang dilarang, dll, dorongan itu disebut fujur.

Dan ketika fujur tersebut sudah di aplikasikan dalam sebuah tindakan, maka hasilnya bisa terbagi menjadi 2, yaitu fahsya (keburukan yang muncul dari syahwat) seperti memandang, menyentuh lawan jenis yang bukan muhrim dan puncaknya yaitu perbuatan zina. Dan perilaku munkar yang sumbernya dari amarah dan berdampak kepada pengrusakan, baik terhadap diri, orang lain , maupun lingkungan.

Jadi, ketika Malaikat melakukan ketaatan dengan beribadah kepada Allah, itu merupakan hal yang biasa, dan mudah dilakukan oleh Malaikat, karena Malaikat tidak perlu melakukan proses Mujahadatun Nafs, karena memang tidak memiliki nafsu,

sedangkan manusia, ketika mampu melakukan ketaatan dengan beribadah kepada Allah, itu dipandang sebagai hal yang luar biasa, karena berarti dia telah mampu menundukan serta mngendalikan nafsunya melalui proses Mujahadatun Nafs

Selama manusia menjalani kehidupannya di dunia ini, 2 potensi tersebut, yaitu potensi Fujur dan taqwa senantiasa saling Tarik menarik sehingga manusia itu pun senantiasa dihadapkan pada dua pilihan, apakah mengikuti potensi taqwa yang berbuah pada perilaku kebaikan, atau potensi fujur yang mengarah pada perbuatan dosa.

Dalam posisi diantara dua pilihan tersebut, Allah mengutus Malaikat untuk memberi dorongan melalui potensi taqwa. Namun disisi lain, setan pun meminta kepada Allah untuk mengambil bagian dalam memberikan dorongan melalui potensi fujur yang sumbernya dari nafsu manusia, karena nafsu senantiasa mendorong kepada kejahatan,


sebagaimana firman Allah dalam qs. Yusuf ayat 53.

Contoh nyata dari pertarungan antara potensi nafsu dan taqwa ini bisa kita lihat dalam sejarah pembunuhan Habil oleh Qobil, yang mana keduanya merupakan putra dari Nabi Adam as.

Habil mampu mengendalikan nafsunya karena takut kepada Allah,


sedangkan Qobil tidak mampu mengendalikan nafsunya sehingga tangannya membunuh Habil saudaranya sendiri,

 

dan kejadian ini Allah abadikan dalam firman-Nya QS. Al-Maidah ayat 28-30.

Begitu juga dalam kehidupan kita sehari-hari yang senantiasa dihadapkan pada pertarungan antara potensi nafsu dan taqwa.

Ketika terbangun di waktu subuh karena mendengan suara adzan, kita dihadapkan pada 2 pilihan, potensi taqwa dalam diri kita mendorong untuk bangun dan melaksanakan shalat, tetapi nafsu kita mendorong untuk melanjutkan tidur, atau ketika dihadapkan pada situasi yang membuat kita marah dan kecewa, maka terdapat dua pilihan, apakah bersabar dan memaafkan, atau melampiaskan nafsu tersebut, baik dengan cacian atau bahkan yang lebih dari itu, seperti pukulan.

Yang perlu kita perhatikan disini adalah, bahwa pada setiap situasi, setan senantiasa mencoba untuk masuk dan menghasut agar kita cenderung memilih nafsu dan mengesampingkan taqwa

Namun, dalam prosesnya, setan tidak secara langsung dengan tegas melarang kita melakukan ketaatan atau memerintahkan untuk berbuat dosa, melainkan setan menggunakan tipu dayanya sebagai langkah-langkah yang epektif.

Dan Allah telah memberitahukan kita tentang langkah2 setan ini agar kita menjadi waspada, sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nisa ayat 119.


Sebagai contoh, ketika kita terbangun karena mendengan suara adzan  di waktu subuh, setan tidak dengan tegas melarang kita untuk shalat, melainkan setan melakukan langkah yang pertama, yaitu menyesatkan kita, dengan hasutannya, bahkan diawali dengan ajakan, “Ayo bangun shalat subuh, adzan telah berkumandang, tetapi jika engkau masih mengantuk, tunda lah sebentar sekitar 5 menit, dan waktu subuh pun masih lama, ini juga kan baru adzan, belum iqomat” lalu setan pun mengambil langkah yang kedua, yaitu memberikan angan2 kosong, dan pada langkah ini biasanya setan memberikan mimpi yang indah sehingga membuat kita lalai, dan percayalah mimpi ini tidak berlangsung 5 menit seperti yang dijanjikan setan, tetapi bisa mencapai 30 bahkan satu jam, sehingga ketika kita terbangun dan ternyata waktu subuh tinggal beberapa menit lagi, setan pun melakukan langkah yang ketiga, yaitu dengan tegas melarang kita shalat, dengan bisikannya” waktu shalat sudah berakhir ya sudah lewatkan saja untuk shaat subuh kali ini, dan lakukan shalat subuh besok dengan lebih khusuk”

Begitupun ketika kita dihadapkan pada situasi yang membuat kita marah dan kecewa, setan memulai hasutannya dengan langkah yang pertama, “bersabarlah jangan marah dan jangan sampai terpancing emosi, jangan kamu pukul orang itu, tetapi kamu juga jangan diam saja karena kamu akan terus direndahkan, yaa minimal balaslah dengan cacian” dan ketika kita terperangkap dalam langkah yang pertama, maka setan pun melanjutkan hasutannya dengan langkah yang kedua, “kalo hanya di beri cacian saja, orang itu tidak akan sadar akan kesalahannya, cobalah beri pelajaran sedikit, mungkin dengan ditampar satu kali, dia akan sadar bahwa dia lah yang salah” dan ketika kita terperangkap juga dalam langkah ini, maka kita sudah bisa menebak kan, bagaimana akhirnya? Ya 99% perkelahian pun akan terjadi, dan disitulah setang menuntaskan langkahnya yaitu dengan lansung memerintah untuk memukul lebih banyak demi menjatuhkan atau mencelakai orang lain.

Setelah kita mengetahui pengertian Mujahadatun Nafs, , bagaimana cara kerja nafsu, dan bagaimana setan bermain dengan nafsu kita, maka inilah tips mudah dalam mengalahkan setan dan mengendalikan nafsu dalam menjalankan Mujahadatun Nafs

1.       Dalam setiap aktifitas sehari-hari awalilah dengan meminta perlindungan kepada Allah dari hasutan setan dengan membaca Ta’awudz lalu diteruskan dengan basmallah

2.       Memaksa diri untuk melakukan amal kebaikan, jangan sampai kemalasan menguasai kita sehingga memudahkan setan menghasut kita dengan langkah2 nya

3.       Perbaiki shalat kita, lakukanlah di awal waktu dan penuh khusuk, karena dengan kualitas shalat yang baik akan mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar sebagaimana firman Allah dalam qs.

4.       Perbanyaklah berdzikir, dan dzikir yang terbaik selain membaca kalimat tasbih, tahmid, takbir dan tahlil, adalah dengan membaca Al-Quran dan mengkaji makna kandungannya.

Semoga Allah SWT, memberi kita kekuatan dalam melakukan mujahadatun Nafs dengan memudahkan kita melakukan 4 tips tadi.

Mengenai bahasan Husnudzan dan Ukhwah, insya Allah akan kita kaji pada pembahasan selanjutnya di pertemuan berikutnya.

Subhanakallahumma wabihamdika Asyhadu Alla Ilaaha Illa Anta, Astagfiruka Wa Atubu Ilaik

Wassalamualaikum wrwb.

Komentar